Sepak Bola Dan Oligarki Otoriter

Update Terakhir: November 12, 2013

Sepak Bola Dan Oligarki Otoriter

Sejarah tentu akan selalu mencatat bagaimana kejamnya Benito Mussolini terhadap negara Eropa yang dijajahnya. Tetapi, sejarah juga mencatat bagaimana “jasa”-nya terhadap sepak bola Italia. Karena di bawah pemerintahannya lah Italia untuk pertama kalinya menjadi juara dunia bahkan selama dua kali berturut-turut. Tim nasional Italia dia bentuk sedemikian rupa karena dia sangat ingin Italia meraih gelar juara dunia. Rumor yang beredar kemudian juga para peserta Piala Dunia diteror sehingga mengalah kepada Italia. Tetapi, itu hanya rumor tidak ada fakta dan buktinya kemudian. Satu yang patut dicatat adalah bahwa sebenarnya sepak bola bisa berjalan dengan seiring dan tetap terus ada andaikata oligarki otoriter pun turut campur.

 

Namun, saat ini, sedikit orang yang bisa kemudian menggambarkan dengan tempat jalinan kasih sayang yang terjalin antara olah raga dan politik. Bahkan sebagian orang mempersepsikan bahwa jika kondisi suatu negara tidak stabil, maka, olah raga khususnya sepak bola tidak akan berjalan dengan lancar. Contoh paling sempurna untuk menunjukkan hal ini adalah melihat negara-negara di Timur Tengah dan Afrika Utara.

 

Negara-negara tersebut harus berhadapan dengan konflik yang tidak pernah selesai. Belum lagi para atlet lebih khususnya lagi para pesepak bola yang mewakili negara tersebut sering diidentikan adalah titipan atau kenalan dari pemimpin rezim yang berkuasa. Ada sebuah pernyataan yang menyedihkan kemudian yakni: jika anda tidak mempunyai koneksi di kalangan pemerintahan maka sehebat apapun anda dalam olah raga ataupun sepak bola, janganlah berharap untuk mewakili negara! Sebuah kenyataan yang menyedihkan. Padahal seperti yang penulis bilang di awal seharusnya negara bisa berjalan dan mengayomi para pemain bahkan kalau perlu melindungi bakat-bakat yang ada dalam jiwa-jiwa manusia tersebut.

 

Jika menyangkut lebih jauh lagi, negara-negara dengan bakat sepak bola seperti Mesir misalnya yang sebenarnya banyak mengimpor pemain ke Eropa namun sayangnya tahun ini mereka harus berhadapan dengan konflik militer melawan sipil. Maka, tidaklah mengherankan bahwa mereka menyalahkan pemerintahan yang berkuasa ketika gagal lolos ke Piala Dunia. Mesir harus menyerah kalah kepada Ghana dalam perebutan tiket menuju Piala Dunia. Mesir takluk kepada Ghana dengan skor 1-6. Maka, suara-suara menyalahkan pemerintahan bermunculan di media maya warga Mesir.

 

“Kau membuat kami sial, wahai Jendral!” tulis warga Mesir di twitter dan Facebook. Jendral yang dimaksud adalah Jendral Abdul Fatah As-Sisi yang mengkudeta Presiden yang berkuasa atas pemilu secara resmi dan demokrasi. Kemudian, negara-negara yang mengalami musim semi demokrasi di Afrika Utara dan Timur Tengah juga menjalani kesulitan serupa untuk menggelar sepak bola. Pemerintah dan keamanan mengatakan bahwa stadion adalah alat yang sangat tepat untuk mengumpulkan massa dalam jumlah besar. Padahal para penonton datang ke stadion ya untuk menonton sepak bola.

 

Saya Sudah Tidak Berguna di Chelsea – Cole

Saya Sudah Tidak Berguna di Chelsea – Cole

Saya Sudah Tidak Berguna di Chelsea – Cole Mantan pemain tim nasional Inggris itu mengatakan bahwa Jose Mourinho sudah tidak memerlukan dirinya lagi untuk terus berada di Stamford Bridge dan...

Pujian Aaron Ramsey Untuk Alexis Sanchez

Pujian Aaron Ramsey Untuk Alexis Sanchez

Pujian Aaron Ramsey Untuk Alexis Sanchez Pujian Aaron Ramsey Untuk Alexis Sanchez – Salah satu gelandang di klub Arsenal, yakni Aaron Ramsey nampaknya menjadi sosok yang cukup bahagia atas keberhasilan...

Prediksi Skor Jerman vs Argentina Final Piala Dunia

Prediksi Skor Jerman vs Argentina Final Piala Dunia

Prediksi Skor Jerman vs Argentina Final Piala Dunia Prediksi Skor Jerman vs Argentina Final Piala Dunia. Pertandingan Final Piala Dunia telah dimulai, masing-masing Negara akan mencoba untuk menjadi pemenang dalam...